Sabtu, 17 April 2010

Pengaruh TV Bagi Pelajar


Dalam kehidupan sehari-sehari di zaman globalisasi dan perkembangan teknologi yang canggih ini, biasanya kita tidak sadar bahwa kita telah dipengaruhi oleh tayangan televisi yang tidak berpendidikan. Kita sebagai seorang remaja dan juga pelajar, semestinya prihatin karena sinetron- sinetron di televisi saat ini dibanjiri dengan kisah-kisah remaja yang dibumbui dengan kekerasan. Entah mereka bertengkar dengan teman sekolahnya sendiri atau dengan teman-teman lain yang beda geng. Di sinilah peran televisi yang menohok perangai kaum remaja. Memang pada awalnya, pihak stasiun televisi menayangkan sinetron tersebut hanya sebatas hiburan bagi remaja. Namun, para pembuat sinetron tersebut tidak sadar bahwa yang mereka tayangkan dapat mendorong moral remaja ke arus degradasi.

Secara mentah- mentah adegan kekerasan yang ada di televisi itu ditiru dan diparaktikkan dalam pergaulannya.
Industri pertelevisian kita memang mengenaskan. Di era kapitalisme dan globalisasi saat ini, mainstream industri media televisi di Indonesia cenderung mengejar rating, bukan kualitas tayangan yang mengedukasi masyarakat. Beda halnya dengan yang terjadi di negara-negara maju. Para pemilik stasiun televisi sudah sadar untuk memproduksi tayangan-tayangan yang bermutu dan bernilai edukasi bagi publik. Apabila kita menilik hukum positif di Indonesia, segala tayangan yang berbau kekerasan bisa dituntut melanggar Pasal 5 Undang-Undang Pers Nomor 40 Tahun 1999 dan Pasal 282 KUHP tentang Kejahatan Kesusilaan. Tak tanggung-tanggung, pelakunya dapat diancam pidana penjara dan denda yang jumlahnya ratusan juta rupiah. Sebagai pelaku media, tentu saja mereka mengerti betul aturan ini. Namun sayang, di negara kita (yang konon sudah teracuni virus kapitalisme), modal lebih berbicara ketimbang moral.

Dengan alibi kebutuhan akan hiburan dan selera pemirsa, pemilik stasiun televisi mengenyampingkan efek negatif yang akan meracuni generasi penerus bangsa menjadi bangsa yang terdekadensi. Perlahan-lahan moral generasi penerus menjadi tergerus arus negatif pengaruh tayangan televisi sehingga akhirnya terdegradasi. Apabila hal ini terus terjadi, pembangunan di negeri ini di masa mendatang akan semakin tersendat bahkan negeri ini akan semakin terpuruk berkat sumber daya manusia (SDM) yang lemah. Dan akhirnya remaja-remaja di era sekarang cenderung meniru dan mudah terpengaruhi oleh adegan-adegan kekerasan yang dipertotonkan secara vulgar di televisi. Sehingga banyak pelajar yang melakukan kekerasan dan tidak ada rasa kasihan sedikitpun dalam diri mereka serta tidak terketuk hati hati nurani mereka.

Kondisi karut-marut seperti itu harus segera dibenahi. Masyarakat mesti diberi ruang mengkritisi tayangan-tayangan yang ada di televisi sehingga tidak lagi hanya menerima secara sukarela tayangan-tayangan yang disodorkan oleh pengelola televisi dan masyarakat tidak lagi dijadikan sebagai bagian dari proses banalisasi.
Di samping itu, sangat dibutuhkan peran dari pemerintah yang sedang berkuasa saat ini untuk membangun SDM yang bermutu. Hal ini bisa dimulai dengan pembangunan moral masing- masing individu remaja. Sehingga, diharapkan nantinya dengan kualitas moral yang baik, santun, dan tidak memiliki tradisi kekerasan, para remaja dapat memperjuangkan dan membawa bangsa dan negara ini menjadi lebih baik. Hal ini memang membutuhkan proses yang panjang dan tidak mudah.
Oleh karena itu, mulai dari saat ini, remaja harus membiasakan diri dengan perangai yang baik dan tidak menghambat pada egoisme diri ataupun kelompok. Sehingga diharapkan masing-masing individu remaja tidak lagi berpandangan bahwa individu atau kelompoknya adalah yang paling benar serta pada akhirnya individu dan kelompok lain yang tidak sesuai dengan keinginannya atau bahkan tidak menurut dengannya, tidak dimusuhi atau bahkan disingkirkan dengan cara kekerasan. Selain itu, perlu dibangun sinergi positif antara masyarakat sebagai konsumen dan media-holder dengan pemerintah sebagai mediator. Masyarakat khususnya remaja perlu diajari bagaimana menilai dan menyeleksi tayangan televisi dengan rating kualitas, bukannya terbawa arus degradasi moral. Sehingga tayangan-tayangan televisi yang dihadirkan ke publik, lebih mengarah ke pendidikan.
Sebetulnya, kesadaran dari tiap individu masyarakat khususnya remaja lah yang paling penting. Sebagai konsumen dari pengelola stasiun televisi, kita dituntut selektif dan pintar dalam memilih tayangan. Selain itu, pembinaan terhadap pengelola televisi agar memproduksi tayangan yang berkualitas, bermutu, jauh dari adegan kekerasan, serta memberikan pendidikan dan pencerahan terhadap masyarakat terutama para remaja, mutlak dilakukan. Sehingga, tidak mempengaruhi para remaja dan pelajar untuk melakukan aksi kekerasan atau perbuatan lain yang menyimpang dari norma-norma adat dan agama. Dan kita harus menolak dengan tegas kreasi seni yang dilakukan dengan aksi vulgar yang terutama tidak mendidik remaja dan pelajar


sumber :( Bahaya IT;Mukho Iriyanto )

0 komentar:

Posting Komentar

Template by:

Free Blog Templates