Senin, 18 April 2011

Emansipasi dan Kartini

Sejarah telah mencatat Raden Ajeng Kartini memperjuangkan emansipasi lewat tulisantulisannya. Begitu pula dengan Raden Dewi Sartika melalui Sekolah Kautaman Istri-istrinya. Keduanya muncul di akhir abad ke 19 dalam masa Kolonial Tanam Paksa.
Sedikit banyak perjuangan keduan pahlawan perempuan tersebut mempengaruhi politik Hindia Belanda hingga mengeluarkan Politik Etis, membalas budi dengan mencoba berterima kepada rakyat melalui kelonggaran pribumi bersekolah, selain pembenahan irigasi dan emigrasi. Kedua pahlawan tersebut juga memberdayakan kesempatan hingga munculnya kesempatan mendirikan sekolah, bahkan membuat kelompok politik pada dasawarsa pertama abad ke-20


Emansipasi seperti terlahir kembali pada masa itu. Persamaan hak dari pribumi didengungkan kepada hindia belanda sebagai perjuangan terhadap eksploitasi pribumi dan tanah airnya. Sebuah perang dengan cara moderat tanpa adu kekuatan fisik, tapi adu otak, adu harga diri.
Nggak berselang lama kebangkitan harga diri pribumi mulai naik hingga sebut sebgai zaman kebangkitan nasional. Nggak hanya bangkit meruncingkan bambu, tapi cuga meruncingkan pikiran, mengasah otak melalui kata-kata, baik dimeja volksraad maupun di media cetak. Kebangkitan nasional nggak bisa lepas dari perjuangan emansipasi dua pahlawan perempuan tersebut yang sering disebut sebagai perjuangan emansipasi perempuan.

0 komentar:

Posting Komentar

Template by:

Free Blog Templates