Rabu, 28 April 2010

Sejarah Singkat Situs Mantingan Jepara

Situs Mantingan terdiri atas sebuah bangunan Masjid dan kompleks Makam yang Arsitekturnya sangat berbeda dengan arsitektur Masjid dan Makam Islam pada umumnya. Situs ini terletak 5 KM arah Selatan dari pusat Kota Jepara, tepatnnya di Desa Mantingan Kecamatan Tahunan Kabupaten Jepara, Sebuah bangunan yang menyimpan peninggalan kuno Islam dan menjadi salah satu asset Wisata Religi dan Sejarah di Jepara, Di mana di sana berdiri megah Sebuah Masjid yng di bangun Oleh seorang Islamik yaitu pangeran Hadlirin suami Ratu Kalinyamat yang di jadikan sebagai Pusat aktivitas penyebaran Agama Islam di pesisir Utara Pulau Jawa dan merupakan Masjid ke dua setelah Masjid Agung Demak, selain itu keberadaan situs ini tidak dapat di lepaskan dengan sejarah Kota Jepara yang berkuasa pada Tehun 1536-1549. Setelah beliau wafat kemudian di gantikan oleh Istrinya yaitu Ratu Kalinyamat Dalam Kurun Waktu 1549-1579.Di atas telah di sebutkan bahwa masjid mantingan merupakan masjid kuno kedua setelah Masjid Agung Demak, yang di bangun pada Tahun 1481 Saka atau Tahun 1559 Masehi. Berdasarkan dari CONDRO SENGKOLO yang terukir pada sebuah Mighrab Masjid Mantingan berbunyi "RUPA BRAHMANA WANASARI" oleh R. Muhayat Syeh Sultan Aceh yang bernama R. Tohyib. Pada awalnya R. Thoyib yang di lahirkan Di Aceh ini menimba Ilmu ke Tanah Suci dan Negeri Cina (Campa) Untuk berda'wah Islamiyahnya, Dan karma kemampuan dan kepandaiannya beliau pindah Ke Tanah Jawa (Jepara) Raden Thoyib Menikah Dengan Ratu Kalinyamat (Retno Kencono) Putri Sultan Trenggono Sultan Kerajaan Demak Saat itu, yang akhirnya beliau mendapat Gelar "Sultan Hadlirin" dan sekaligus di nobatkan sebagai Adipati Jepara (Penguasa Jepara), Sampai Wafat dan di makamkan di Situs Mantingan Jepara. Di makam inilah Pangeran Hadlirin (Sunan Mantingan), Ratu Kalinyamat, Patih Sungging Badarduwung Seorang pati keturunan Cina yang menjadi kerabat Sultan Hadlirin bernama CIE GWI GWAN dan sahabat lainya di semayamkan.

Keberadaan Dan Kegunaan Situs Mantingan Dari awal Di Bangun Sampai Sekarang.

Situs Mantingan khususnya pada makam Manitingan sampai sekarang masih di anggap sakral dan mempunyai tuah bagi masyarakat Jepara dan sekitarnya. Makam yang selalu ramai di kunjungi pada saat "Khool" untuk memperingati wafatnya Sunan Mantingan berikut upacara "Ganti Luwur" atau (Ganti Kelambu) ini ndi selenggarakan setiap satu tahun sekali pada tanggal 17 Robiul Awal atau 9 April (Sehari sebelum peringatan Hari Jadi Kota Jepa). Adapun kepercayaan lain seperti Buah Pace di sekitar Makam yang mana bila di Konsumsi pasangan yang belum punya keturunan maka atas izin Allah pasangan tersebut akan segera di keruniai keturunan dan masih ada banyak keunikan- keunikan lain.

Situs Mantingan sendiri berada sangat strategis dan nyaman, setelah Kami mendapatkan data dari Juru Kunci Situs Mantingan berawal dengan berdirinya pesanggrahan Sultan Hadlirin dan Ratu Kalinyamat, di mantingan pesanggrahan ini berfungsi sebagai tempat peristirahatan sekaligus tempat menyepi atau tirakat guna mendekatkan diri kepada Tuhan yang di lengkapi dengan sebuah Masjid, oleh sebab itu masyarakat sekitar masjid itu kemudian di kenal dengan sebutan Masjid Mantingan dari tataran tutur masyarakat Mantingan di peroleh data pula bahwa pesanggrahan ini dulunya juga di gunakan oleh Sunan Mantingan untuk mengurusi kepentingan- kepentingan tertentu terutama kaitanya dengan penyebaran Agama Islam di Jepara hal ini di kaitkan dengan arti kata mantingan itu sendiri yang berarti pementingan.

sumber (Bpk Ali Syafi'i)

0 komentar:

Poskan Komentar

Template by:

Free Blog Templates